Categories
Tekno

Sarjana Perhotelan yang Sukses Menjadi Presiden Direktur Distributor TI

Menjadi seorang Presiden Direktur PT Harrisma Agung Jaya. Menurut Yansen Setiawan Noer adalah pencapaian yang diperoleh berkat kerja keras dan kemauan belajar yang tinggi. Sebab, posisi yang diraih ya sekarang ini sebagai CEO sebenarnya bukan berasal dari bidang yang dikuasainya. Berpendidikan sebagai sarjana perhotelan di kampus John Curtin, WA, Australia, membuat Yansen sesungguhnya sudah sangat fasih dengan segala aturan dan tata cara yang diperlukan untuk mengelola hotel. Namun, meski sudah sempat bekerja sebagai manager di salah satu hotel ternama di Jakarta Pusat, ia merasa pekerjaannya itu kurang menantang. Maka ia banting setir memulai profesi baru di bidang TI yang dirintisnya dari bawah, sebagai sales di Harrisma. “Waktu itu saya pikir kalau tidak betah ya saya tinggal keluar saja, melamar lagi di perhotelan. Sebab saya yakin akan diterima. Di Indonesia sangat jarang yang punya gelar S1 Perhotelan. Kebanyakan diploma,” tuturnya optimis. Memulai karir di industri yang sangat berbeda dengan keseharian yang ia tangani memang memberi tantangan yang berbeda. Ia harus banyak belajar dan tak kecut ketika rintangan terasa sulit di depan mata.

“Dulu pernah saya punya bos yang rasanya tak pernah puas dengan hasil kerja saya. Setiap kali mengubah target sesukanya saja. Tapi yang seperti itu tak saya gubris, saya kejar saja target yang dia buat itu. Tiap saya achieve, selalu langsung dibuat target baru, ya sudah, saya kejar terus saja. Akhirnya dia juga yang oke, dan mengakui saya,” kenangnya sembari tersenyum. Dengan kegigihan seperti inilah, tak heran jika empat belas tahun berkarir di Harrisma membuat karir Yansen terus menanjak. Kegigihanya ini jugalah yang membuatnya mampu bertahan ketika berkuliah di Australia. “Waktu sudah mendekati semester akhir tiba-tiba usaha papa saya merosot.

Papa bilang saya pulang saja ke Indonesia, papa sudah tidak sanggup membiayai kuliah saya,” ujarnya. “Itu terjadi di tahun 1998 saat Indonesia terkena krisis. Tapi saya pikir sayang banget hanya tinggal beberapa semester lagi masak harus berhenti. Akhirnya saya putuskan untuk terus bertahan di sana dengan biaya sendiri. Saya bekerja apa pun yang saya bisa kerjakan waktu itu,” tambahnya lagi. Ketika ia mulai menjabat manager, ia merasakan bahwa mengelola orang-orang dan produk industri TI sangat berbeda dengan ketika ia masih mengelola perhotelan. “Dinamikanya berbeda, pasarnya berbeda. Saya harus banyak eksperimen. Berbeda dengan perhotelan yang memang jadi sudah jadi dasar pendidikan saya. Saya sudah menguasai seluruhnya,” paparnya. “Kalau di hotel saya tahu kalau menaruh sendok jarak antara ujung bawah sendok dengan meja itu harus setengah jempol. SOP untuk karyawan juga jelas, kalau tidak senyum kepada tamu itu bisa dipecat,” ujarnya berapiapi. “Sementara di TI semua serba tidak pasti. Kita menebak-nebak hasilnya seperti apa dari strategi yang kita buat.” Menjadi di posisi tertinggi menurut

Yansen berarti harus pandai mendelegasikan tugas dan belajar percaya dengan bawahan. “Sekarang saya sudah banyak melepaskan pekerjaan dan membiarkan pegawai yang mengurus. Kalau dulu memang tidak, setiap ada pekerjaan yang sudah dikerjakan, pasti saya cek dulu satu persatu. Sekarang sudah tidaklah. Percayakan saja kepada mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *